Polisi Hutan Kesulitan Menangkap Pencuri Kayu

THURSDAY, 15 DECEMBER 2011

MAROS — Polisi hutan di Dinas Perkebunan dan Kehutanan Maros kesulitan menangkap pelaku pencurian kayu di kawasan hutan lindung di Kabupaten Maros karena terbatasnya aparat. Jumlah polisi hutan di sana baru 10 orang, empat di antaranya perempuan. “Kalau personel ini yang diandalkan untuk menjaga hutan lindung sekitar 34 ribu hektare, kami masih sangat kesulitan,” ujar Kepala Seksi Perlindungan dan Pengamanan Hutan Dinas perkebunan dan Kehutanan Maros Komandan polisi hutan Abdul Muttalib di kantornya kemarin.

Dia mengatakan, idealnya, satu orang polisi hutan bertanggung jawab melakukan pengawasan dan pengamanan hutan seluas 3.000 hektare. Jadi, kalau hutannya 34 ribu hektare, minimal polisi hutan yang disediakan 31 orang, yang masing-masing dibekali teknik penyelidikan serta penyidikan dan mahir menggunakan senjata api. Kalau tidak demikian, selamanya kita akan kesulitan menjaga kelestarian hutan lindung kita,” ucap Muttalib

Untuk mengantisipasi maraknya pencurian kayu, Muttalib mengaku, untuk sementara tidak akan mengeluarkan rekomendasi izin penebangan kayu masyarakat. Sebab, banyak oknum pengusaha berizin yang melanggar aturan. “Izin penebangan kayunya diberikan pada lahan warga, tapi diduga ada yang nakal karena sering menebang kayu di dalam kawasan hutan. Selama ini kami kesulitan mengidentifikasi oknumnya karena kayu yang sudah ditebang di kawasan hutan umumnya berbentuk balok. Kayu itu segera mereka dipindahkan ke lahan warga. Kalau seperti itu, kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Jika kayunya masih gelondongan, itu masih bisa dicocokkan dengan batang bekas tebangannya di kawasan hutan. Tapi itu sangat jarang ditemukan. Kecuali ada laporan warga, kami bisa segera mengambil tindakan,” ujar Muttalib.

Mengenai pengawasan, Muttalib mengaku, meski terbatasnya aparat polisi hutan, pihaknya tetap intens melakukan patroli di wilayah kerjanya, seperti di wilayah Kecamatan Tompo Bulu, Tanralili, Camba, dan Mallawa, yang paling marak terjadinya pencurian kayu dan perambahan hutan. “Beberapa waktu lalu kami berhasil menahan sekitar 10 meter kubik kayu balok di dua lokasi yang berbeda. Secara kebetulan penangkapan itu terkait laporan warga dan kayunya sudah kami amankan di kantor. Hingga saat ini, pemilik kayu tersebut belum kita temukan,” tutur Muttalib.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kehutanan Kecamatan Tompo Bulu, Nazar, saat dihubungi mengaku lokasi penangkapan kayu baru-baru ini berada di dua wilayah hutan lindung, yakni Dusun Bossolo, Desa Toddolimae, Kecamatan, dan Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompo Bulu. “Kami akui, jika tidak ada yang melakukan penjagaan pada malam hari di Jalan Poros Kecamatan Tompo Bulu, banyak kayu hasil tebangan warga dari hutan lindung diloloskan pengusaha kayu menggunakan angkutan truk. Tetapi kadang kala saat kita berjaga sepanjang malam, hingga pagi tidak ditemukan truk pengangkut kayu yang melintasi jalan itu. Nanti, setelah petugas lengah, menurut warga, barulah ada truk yang melintas memuat kayu. Sepertinya mereka sudah tahu jika ada petugas yang berjaga atau tidak,” kata Nazar.

Adapun terhadap kendaraan yang sering didapati memuat kayu pada malam hari tapi mereka dapat menunjukkan dokumen kayunya, polisi hutan kesulitan mengidentifikasi apakah kayu yang dimuat berdasarkan tebangan dari lahan warga sendiri atau kayu dari kawasan hutan lindung. Sebab, kondisinya sudah berbentuk balok. “Rata-rata mereka punya dokumen resmi, seperti kayu jati yang ditanam warga di lahannya sendiri. Sedangkan kayu yang dicurigai dari kawasan hutan umumnya jenis kayu rimbah, seperti kayu mappala, jabon, dan bungur. Adapun sekitar 10 meter kubik yang kami tangkap di kawasan hutan itu rencananya akan kami lelang. Hasilnya akan kami setor ke kas daerah,” ucap Muttalib.

Bupati Maros H M. Hatta Rahman mengaku pemerintah daerah memang masih sangat kekurangan personel polisi hutan. “Tahun depan akan kami usulkan kepada pemerintah pusat agar Maros diberi formasi pengangkatan pegawai di bidang polisi hutan. Sebab, jika kondisi ini terus dibiarkan, polisi hutan yang ada akan terus kewalahan melakukan pengawasan hutan di wilayah Kabupaten Maros, yang merupakan tanggung jawab kami dalam melestarikannya,” ucap Hatta. l JUMADI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s