APP Dituduh Lakukan Penebangan di Suaka Harimau

THURSDAY, 15 DECEMBER 2011

JAKARTA — Tim investigasi Eyes on the Forest menyingkap adanya kebohongan di balik klaim PT Asia Pulp and Paper (APP) dalam pelestarian lingkungan di Suaka Harimau Senepis, Riau. Kemarin hasil investigasi berjudul “Kebenaran di Balik Greenwash APP” dipaparkan ke publik.

“Penyelidikan dilakukan berkala setiap bulan dan kami gunakan pendekatan ke masyarakat serta pekerja perusahaan,” ujar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Riau Hariansyah Usman kepada Tempo.

Eyes on the Forest, yang merupakan gabungan tiga lembaga, yaitu Walhi Riau, Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), dan World Wide Fund for Nature Riau, melakukan penelusuran ke lapangan pada Juni-Oktober 2011. Selain itu, mereka menggunakan data satelit yang memotret luas hutan dari tahun ke tahun.

Menurut Hariansyah, APP, yang merupakan bagian dari Grup Sinar Mas, telah membuka hutan di lokasi yang dideklarasikan sendiri sebagai Suaka Harimau Senepis. “Temuan kami di lapangan memperlihatkan bahwa perusahaan ini melumat blok-blok kecil hutan yang akan dilindungi sebagai habitat harimau.”

Memang, pada 2006, APP membuat iklan yang menjelaskan tentang pembentukan Suaka Harimau Sumatera seluas 106 ribu hektare. Hutan hujan tropis ini jadi habitat satwa harimau Senepis. Data WWF menyebutkan, kini hanya tersisa 400 harimau Sumatera yang hidup di alam bebas.

Tim investigasi juga menemukan bahwa sebagian besar wilayah suaka APP berada di luar kendali perusahaan itu. Dalam arti lain, 86 persen dari suaka mencakup hutan yang dilindungi di konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) bersertifikat Forest Stewardship Council, yang tidak terkait dengan grup itu, yakni PT Diamond Raya Timber.

Hariansyah meminta pembeli produk Grup Sinar Mas dan investor menyadari kampanye media APP yang mengeksploitasi kurangnya pemahaman masyarakat. Juga bagaimana perusahaan ini menyesatkan pelanggan mereka soal realitas buruk di lapangan.

PT APP membantah tudingan koalisi lembaga swadaya masyarakat Eyes on the Forest itu. Juru bicara APP, Hendriko L. Wiremmer, menyatakan perusahaannya memiliki hutan tanaman industri (HTI) sendiri sebagai sumber pasokan kayu.

“Kami hanya menebang dari hutan dalam area industri kami. APP masih mempunyai lahan HTI yang semuanya belum digarap,” kata Hendriko ketika dimintai konfirmasi kemarin. Pihaknya tetap berkomitmen selalu mengambil kayu dari hutan tanaman industri.

Ia mengatakan, sejak memberikan sebagian lahan untuk dijadikan kawasan suaka harimau Sumatera beberapa tahun lalu, APP tidak pernah lagi mengambil kayu dari kawasan cagar biosfer yang dilindungi. “Suaka memang berada dalam area APP. Memang kami berikan untuk daerah perlindungan harimau Sumatera,” kata dia.

Hendriko menjamin semua kayu APP, baik secara langsung maupun melalui perusahaan-perusahaan pemasok, diperoleh tanpa melanggar aturan. Ia menegaskan, semua perusahaan pemasok kayu ke APP juga memahami aturan main yang diterapkan APP secara ketat, yakni tidak lagi mengambil kayu dari kawasan dilindungi. “Pemasok pasti berpikir panjang kalau melakukan kecurangan, karena akan diputus kontraknya oleh APP,” kata dia.

APP juga selalu memantau secara ketat perolehan kayu dari perusahaan-perusahaan pemasok. Karena itu, menurut Hendriko, jika ada indikasi kecurangan dari pemasok, pasti langsung ketahuan.MAHARDIKA SATRIA HADI | SATWIKA MOVEMENTI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s