KONFLIK LAHAN

Warga Penggarap Tolak Keberadaan PT SIL

Bengkulu, Kompas – Warga yang menggarap lahan eks hak guna usaha PT Way Sebayur di Kabupaten Seluma, Bengkulu, menolak keberadaan PT Sandabi Indah Lestari sebagai pemenang lelang atas lahan HGU PT Way Sebayur yang telantar. Warga menilai keberadaan PT SIL justru membuat mereka semakin miskin.

Warga Desa Pagar Agung, Kecamatan Seluma Barat, Jan Pakpahan, Senin (12/12), mengatakan, masyarakat menggarap lahan eks HGU PT Way Sebayur (WS) sejak tahun 1997. Lahan garapan itu sebagai sumber mata pencarian warga setempat.

Oleh karena itu, kata Jan, warga berharap lahan garapan warga tidak diganggu. Bahkan, jika memungkinkan, warga ingin memiliki. ”Lahan ini satu-satunya sumber penghidupan keluarga. Jadi, kalau diambil, kami pasti miskin,” katanya.

Warga Desa Lunjuk, Kecamatan Seluma Barat, Juharlis, menambahkan, warga penggarap umumnya memiliki surat keterangan tanah (SKT) yang dikeluarkan desa dan kecamatan, bahkan ada yang memiliki sertifikat. Warga marah karena tiba-tiba PT SIL hadir dan langsung mengklaim lahan garapan warga tanpa sosialisasi.

Memang, PT WS mendapat izin HGU di Bengkulu seluas 6.328 hektar tahun 1987, tersebar di Kabupaten Seluma (2.812 hektar) dan Kabupaten Bengkulu Utara (3.516 hektar). Dalam perjalanannya, PT WS bangkrut sehingga lahan menjadi telantar. Pada 1996-1997, masyarakat masuk dan menggarap lahan telantar ini hingga jumlahnya mencapai 1.000 jiwa.

Lahan HGU PT WS bahkan sempat disita negara lalu dilelang kembali pada Februari 2011. Dengan nilai penawaran Rp 51 miliar, PT SIL memenangi lelang atas 6.328 hektar lahan eks HGU PT WS itu dan akan menanam kelapa sawit.

Cabut izin

Dari Banda Aceh dilaporkan, Pemerintah Provinsi Aceh kembali didesak mencabut pemberian izin perkebunan kepada swasta di sejumlah hutan lindung dan rawa. Izin tersebut umumnya tanpa disertai kajian analisis mengenai dampak lingkungan.

Di samping itu, pembukaan lahan perkebunan melanggar ketentuan dan berpotensi merusak kelestarian hutan lindung di Aceh. Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh TM Zulfikar mengungkapkan, saat ini terdapat 236 izin hak guna usaha yang dikeluarkan pemerintah.

Luas lahan yang dialihfungsikan menjadi perkebunan tersebut mencapai 351.232,8 hektar. Sebagian besar untuk lahan sawit. Ironisnya, lahan yang dialihfungsikan itu adalah hutan lindung. (ADH/HAN)

Kompas, 13 Desember 2011

http://cetak.kompas.com/read/2011/12/13/0424303/warga.penggarap.tolak.keberadaan.pt.sil

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s