Hutan Kera di Tengah Kota

MONDAY, 12 DECEMBER 2011

Jangan membayangkan kawasan hutan kera Tirtosari seperti hutan pada umumnya. Hutan seluas tiga hektare itu merupakan lereng bukit milik Pemerintah Kota Bandar Lampung. Aneka pohon, seperti akasia, rambutan, mentru, dan sengon, berdiri menjulang diselingi pohon-pohon perdu. Tepat di bawah kawasan hutan berbentuk lereng curam itu terdapat sumber mata air, yang biasa digunakan warga untuk mandi dan mencuci. Warga juga membawa pulang airnya untuk memasak.

Nah, di hutan itulah sekitar 300 kera liar ekor panjang bermukim. Untuk menuju ke sana, hanya butuh lima menit dari pusat kota. Kawasan wisata ini juga bisa ditempuh dengan angkutan umum rute Tanjung Karang-Teluk Betung dengan ongkos Rp 2.000. Turun di pertigaan Sarijo, Jalan Diponegoro, kita melanjutkan perjalanan naik ojek dengan ongkos Rp 5.000. Jaraknya dari pertigaan itu sekitar 1,5 kilometer.

Di tempat ini juga ada kolam pemancingan yang selalu ramai. Deretan pohon bambu yang tumbuh asri membuat para pemancing betah. Di tempat itu pula komunitas pelukis ampas kopi suka kumpul-kumpul. Pemancing dan pelukis bersama-sama menikmati keheningan tengah kota. “Itu yang membuat saya betah tinggal di kawasan ini. Ide melukis bisa lahir kapan saja,” kata Sutanto, pelukis ampas kopi, yang membuka bengkel lukis di kawasan hutan kera itu.

Asal-usul kera ini bermula pada 1986. Adalah Bagio, 56 tahun, warga di sekitar kawasan, yang tidak sengaja melepas kera peliharaannya ke tengah hutan itu. Dua ekor betina itu dilepasliarkan setelah berulang kali menyerang dan melukai tetangganya. Tidak lama berselang, seorang warga juga melepasliarkan seekor kera jantan. “Mereka ternyata berkembang biak di hutan,” kata Bagio.

Perkembangan pesat kera ekor panjang itu sempat membuat persoalan sendiri. Di hutan tidak tersedia cukup makanan. Kera-kera itu mencari makan ke rumah penduduk dan membuat resah warga, sehingga kera-kera itu akan dibasmi. “Saya menentang. Saya kemudian menanami hutan itu dengan aneka tanaman yang bisa menjadi sumber makanan untuk kera itu,” ujar Bagio.

Namun ia sempat juga keteteran. Pasalnya, kondisi ekonominya pas-pasan. Ia hanya mengandalkan warung kelontong dan dua petak kolam pemancingan. Karena itu, Bagio memasang “tarif” jika ada pengunjung yang meminta dipanggilkan monyet dari hutan. “Cukup dua sisir pisang atau dua kilogram kacang.” Selain itu, sejak 2007, ia mengaku mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Bandar Lampung sebesar Rp 20 juta tiap tahun, meskipun tak utuh sampai ke tangannya.

Sudah hampir 20 tahun Bagio memberi makan kera itu. Setiap pagi dan sore, ia menyediakan pisang, singkong, dan makanan apa saja. Kedekatan itu membuat Bagio mempunyai cara unik memanggil ratusan kera untuk turun dari hutan. “Eneeeeeeeeennn… eneeeeennnnn… eneeeennn…!” Bagio berteriak nyaring memanggil. Ajaib, tidak berselang lama, ratusan kera turun mengerubutinya.¬†l NUROCHMAN ARRAZIE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s