EKSPLOITASI LEWAT LINGKUNGAN

Negara Maju: Kucemari, Kau yang Bayar

Bacalah berita terjemahan langsung dari kantor berita Reuters ini yang muncul, Minggu (11/12). Ini sehubungan dengan penutupan pertemuan 190 negara soal pemanasan global di Durban, Afrika Selatan.

Kantor berita itu menuliskan, para investor swasta kemungkinan dapat diizinkan mendapatkan kredit karbon (carbon credits). Ini istilah yang tidak pernah hilang dari negosiasi soal isu pemanasan global.

Ini terlepas dari percaya tidaknya Anda soal isu pemanasan global. Masalahnya, para tokoh dari Partai Republik AS selalu bercanda di antara sesama mereka. ”Kamu Obama banget,” demikian celetukan sesama politisi Partai Republik jika ada tokoh Partai Republik yang buka suara soal isu lingkungan hidup.

Ini belum bicara soal keanehan data-data lingkungan hidup, di mana Iran masuk ke dalam kategori 10 besar negara yang dikatakan mencemari dunia.

Namun, hal paling vulgar adalah soal kredit karbon itu. Para korporasi bisa mengeluarkan karbon dioksida dan ini dikompensasikan dengan janji korporasi itu akan membantu negara berkembang untuk melestarikan hutan-hutan tropis.

Dengan kata lain, korporasi swasta bebas mencemari lingkungan dan ini dimungkinkan dengan membantu negara berkembang lewat bantuan.

Perundingan di Durban ini menganggap negara berkembang sebagai kelompok yang mudah saja dibodohi. Bayangkan, pencemaran dikompensasi dengan janji bantuan.

Ini adalah eksploitasi modern oleh negara maju lewat isu lingkungan. Ini sebuah eksploitasi kasatmata dan terang-terangan.

”Bagi kepentingan reputasi investasi swasta, cara ini adalah sebuah hal paling positif,” demikian kata Andrew Hedges, seorang mitra dari Norton Rose LLP, sebuah firma hukum. ”Ini sekaligus mengakui bahwa pendekatan pasar bisa dikembangkan di masa datang.”

Maksudnya, jika korporasi mencemari, reputasinya tetap terjaga karena membantu negara berkembang.

Bantuan apa?

Lepas dari itu, bantuan apa yang bisa diharapkan dari korporasi negara maju. Katakanlah kita bisa menerima jika korporasi swasta bisa mengompensasikan pencemaran dengan bantuan pada negara berkembang. Adakah bantuan nyata yang bisa diharapkan?

Negara-negara maju menawarkan janji bantuan 100 miliar dollar AS lewat program yang dinamakan Reduced Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). Ini adalah sebuah program pengurangan emisi lewat pencegahan penggundulan hutan.

Adakah janji itu akan bisa direalisasikan? AS sudah memiliki utang sebesar 14,58 triliun dollar AS. Zona euro juga punya utang menggunung. Jepang juga sudah memiliki utang sebesar 200 persen dari produksi domestik bruto. AS, zona Euro, dan Jepang sendiri pun sudah mendapatkan peringatan dari lembaga pemeringkat dunia akibat tumpukan utang.

Mampukah negara maju memenuhi janji-janji bantuan yang sudah dibahas selama tiga tahun terakhir ini?

Pertanyaan lain, mengapa pengurangan pemanasan global digenjot lewat REDD. Pemanasan global justru lebih banyak disebabkan polusi industri. Nah, dalam pertemuan di Durban ini, Protokol Kyoto sama sekali mental. Padahal, penekanan protokol ini penting untuk menekan, khususnya negara-negara maju, penyebab polusi terbesar.

Akan lebih geli lagi membaca pernyataan pejabat Afrika Selatan. ”Kami telah mencatatkan sejarah,” demikian kata Menlu Afrika Selatan Maite Nkoana-Mashabane, yang mengetuai pertemuan itu. Menlu ini mungkin mencoba menyelamatkan wajah Afrika Selatan agar dianggap sebagai tuan rumah yang berhasil soal lingkungan.

Namun, kalimat Menlu Afrika Selatan ini tak mampu menepis kritikan para pencinta lingkungan hidup. ”Pertemuan ini sangat lambat membalikkan keadaan,” kata Roman Czebiniak, aktivis lingkungan hidup dari kubu Greenpeace.

Namun sayang, Czebiniak lebih menyoroti soal kehutanan, padahal emisi gas lebih dominan dikeluarkan negara-negara maju.

Kenyataan lain adalah AS, India, dan China saling tuding dalam pertemuan itu. India dan China mengeroyok AS, yang dianggap berniat meredam ekspansi ekonomi China dan India lewat isu lingkungan. ”Kami berhasil mengusung diplomasi Eropa,” kata Menteri Energi dan Lingkungan Inggris Chris Huhne tentang hal itu.

Todd Stern, ketua delegasi AS untuk pertemuan itu, menyatakan puas dengan hasil perundingan. Puas karena AS tidak berhasil dipaksa meratifikasi Protokol Kyoto, tetapi lebih berhasil memojokkan tanggung jawab India dan China soal pemanasan global.

(REUTERS/AP/AFP/mon)

Kompas, 12 Desember 2011

http://cetak.kompas.com/read/2011/12/12/04412790/negara.maju.kucemari.kau.yang.bayar

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s