Demonstran Desak Polisi Tuntaskan Kasus George

FRIDAY, 09 DECEMBER 2011

SLEMAN – Massa Forum Masyarakat Yogyakarta (FMY) kembali mendatangi kantor Kepolisian Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kemarin. Mereka mendesak polisi bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan pelecehan terhadap Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh George Junus Aditjondro.

George dilaporkan telah melecehkan Keraton Yogyakarta saat menjadi pembicara dalam diskusi “Membedah Status Sultan Ground dan Pakualaman Ground dalam Keistimewaan Yogyakarta” di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, akhir November lalu. Dalam diskusi itu, George sempat mengatakan Keraton adalah singkatan dari “kera yang ditonton”.

Massa yang berpakaian ala petani mencegat mobil Kepala Polda DIY Brigadir Jenderal Tjuk Basuki. Mereka memberikan sebuah replika model borgol narapidana kelas berat zaman dahulu, dengan satu ikatan di pergelangan kaki dan ujung besi pemberat.

“Borgol ini sebagai simbol agar polisi segera memeriksa George karena perbuatannya telah melukai hati masyarakat Yogyakarta,” kata Mas Bei, perwakilan forum tersebut.

Tjuk tersenyum menerima replika borgol itu. “Polisi masih bekerja. Tapi semua ada aturannya,” kata dia.

FMY melaporkan George dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik atau pelecehan, sesuai dengan pasal 207, 310, 311, 317, dan 318 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Masalahnya, pasal 319 KUHP tegas menyebutkan pidana pelecehan “tidak dituntut jika tidak ada pengaduan dari orang yang terkena kejahatan itu”.

Ini juga diakui oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY Ajun Komisaris Besar Polisi Anny Pudjiastuti kepada Tempo. Menurut dia, polisi sulit melanjutkan proses hukum jika pihak yang dilecehkan — dalam hal ini Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta atau kerabat keraton lain — tidak melaporkan George.

“Proses pemeriksaan dan pemanggilan sebagai saksi masih akan tetap jalan. Tapi untuk menindaklanjutinya harus ada laporan dari pihak yang merasa dilecehkan secara langsung,” kata Anny.

Secara terpisah, para petani lahan pantai di Kulon Progo meminta polemik antara George dan Keraton Yogyakarta dihentikan. “Itu bukan esensi dan bukan hal yang besar,” kata Widodo, petani dan aktivis Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo. Menurut dia, masalah utama dalam diskusi dengan George adalah soal rencana pemerintah menyerobot lahan pertanian mereka di pesisir pantai Kulon Progo untuk penambangan pasir besi.

Adapun pengamat sosial dari Universitas Gadjah Mada Arie Sujito berharap George segera meminta maaf, baik secara langsung ke Sultan maupun ke publik melalui media massa. Dengan meminta maaf saya yakin permasalahan selesai. Lalu meneruskan berbicara soal substansi keistimewaan Yogyakarta yang menyangkut tanah petani itu,” kata Ari.

Rabu lalu, George sempat mendatangi kantor Sultan di Kepatihan, Yogyakarta, untuk meminta maaf secara langsung kepada Sultan, tapi Sultan sedang tidak berada di tempat.PRIBADI WICAKSONO, MUH SYAIFULLAH


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s