Hampir Separuh Hutan Nusakambangan Rusak

FRIDAY, 09 DECEMBER 2011

CILACAP – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cilacap mencatat sekitar 5.000 hektare hutan tropis Nusakambangan, atau hampir separuh dari luas keseluruhan hutan di pulau seluas 12.106 hektare itu, saat ini rusak.

Kerusakan terjadi karena alih fungsi lahan perhutanan menjadi lahan pertanian. “Menjadi lahan perkebunan albasia dan lahan bercocok tanam,” kata petugas konservasi Wilayah II Pemalang-Cilacap BKSDA Cilacap Dedy Supriyanto kemarin.

Selain akibat alih fungsi lahan, Dedy juga mengatakan pembalakan liar di Nusakambangan bagian barat, dekat Jawa Barat, masih marak dilakukan. Di daerah itu, kerusakan hutan terbentang dari kawasan hutan di samping wilayah penjara hingga batas hutan bakau di sebelah barat.

Hutan yang dulunya banyak ditumbuhi pohon endemik Nusakambangan kini berubah menjadi hamparan sawah dan kebun albasia. Padahal, kata dia, di lokasi itu sudah dipasang tanda larangan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan.

Dia menduga telah terjadi pengabaian oleh aparat yang berwenang sehingga masyarakat Cilacap bisa membuka lahan pertanian seenaknya. “Kemungkinan ada permainan dengan oknum yang berwenang mengurusi Nusakambangan,” kata Dedy.

Kawasan cagar alam Nusakambangan timur dan barat, menurut dia, dulu menjadi tempat favorit perambahan hutan. Tapi saat ini semakin sedikit karena perambah mulai mengetahui peta kawasan yang mendapat pengawasan ketat. “Nampaknya para penjarah memahami peta wilayah Nusakambangan. Sehingga mereka hanya menjarah di luar kawasan itu,” kata dia.

Kepala Kepolisian Sektor Cilacap selatan Ajun Komisaris Besar Polisi Zudi Parwata mengakui pembalakan liar di hutan Nusakambangan masih marak. Bahkan, kata dia, pekan lalu, petugas gabungan dari BKSDA, Satuan Polisi Pamong Praja dan Polsek Cilacap selatan menangkap tiga pelaku pembalakan liar di blok barat Bantar Panjang, kawasan hutan Pulau Nusakambangan. “Mereka ditangkap saat mengangkut kayu yang ditebang dari Nusakambangan,” kata Zudi.

Para tersangkanya adalah Wakim, 29 tahun, Satim (29), dan Guntoro (19). Ketiganya warga Desa Rawapu, Kecamatan Patimuan. Petugas menyita barang bukti berupa dua lembar papan kayu, sebuah gergaji mesin, dan dua jeriken bahan bakar.

Zudi menambahkan, selama ini di kawasan hutan Nusakambangan, khususnya di blok Bantarpanjang, ditemukan banyak bekas potongan kayu curian. Di Nusakambangan sendiri, ada beberapa pohon endemik yang menjadi buruan pembalak liar. Di antaranya, Bayur, Sinduk, Kedayu, laratan, plalar, trembesi, dan lainnya.ARIS ANDRIANTO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s