KONFERENSI PERUBAHAN IKLIM

Muncul Seruan untuk Tinggalkan AS

Durban, Kompas – Kekerasan hati Amerika Serikat menolak komitmen mengikat secara hukum pada Protokol Kyoto memicu pendapat, AS sebaiknya ditinggalkan. Yang dibutuhkan adalah aksi pembangunan rendah karbon.

Demikian dilaporkan wartawan Kompas Brigitta Isworo Laksmi dari Konferensi Perubahan Iklim PBB di Durban, Afrika Selatan, Rabu (7/12). Sejak Protokol Kyoto diratifikasi tahun 1997, AS menolak meratifikasi karena China juga tak berkomitmen. China adalah pengemisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia saat ini (23,33 persen). AS di peringkat kedua (18,11 persen) total emisi GRK dunia.

Sejak Selasa lalu, dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB, berlangsung pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan menteri atau kepala pemerintahan anggota Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).

”Kami harus memutuskan tanpa menunggu AS. Jangan seperti di Kopenhagen ketika tak bisa diambil keputusan karena menunggu semua pihak,” ujar Corrado Clini, Menteri Lingkungan Darat dan Lautan Italia di Paviliun China. Hadir pula Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani dan kepala perunding China, Xie Zhenhua.

Pada Pertemuan Para Pihak ke-15 di Kopenhagen tak muncul dokumen mengikat. Hanya Catatan Kopenhagen (Copenhagen Accord). Hasil itu dinilai kegagalan menyakitkan.

Di Indonesia, Walhi khawatir Protokol Kyoto tak berlanjut. Hingga hari ke-10 konferensi, tak ada tanda dan komitmen dari negara pengemisi besar.

Hutan dikorbankan

Sementara itu, hasil negosiasi rancangan Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan (REDD+) dinilai amat mundur dari posisi di Cancun, Meksiko, tahun lalu. Koalisi beranggota 100 organisasi nonpemerintah kecewa karena rancangan itu memuat usulan pemerintah bisa membuat petunjuk untuk laporan perlindungan (safeguard) sosial dan lingkungan serta pengukuran pengurangan emisi.

Pada COP-16 di Cancun diajukan rancangan bahwa laporan harus dengan petunjuk (sesuai kesepakatan UNFCCC).

Koalisi organisasi 38 negara ini, Kaukus Akra Soal Hutan dan Perubahan Iklim, mengingatkan, rancangan di Durban berisiko bagi masyarakat hutan. Program REDD+ kurang diminati, tetapi Indonesia menetapkan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai proyek percontohan.

Di Kongo, proyek simpanan karbon hutan sejuta hektar didanai swasta tak melibatkan komunitas. ”Partisipasi komunitas dan masyarakat lokal harus jadi perhatian,” ujar Sam NnahNdobe dari Centre for Environment and Development Kamerun. (ICH)

Kompas, 8 Desember 2011

http://cetak.kompas.com/read/2011/12/08/05091241/muncul.seruan.untuk.tinggalkan.as

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s