Tanah Sultan dan Pakualaman Digugat

THURSDAY, 01 DECEMBER 2011

YOGYAKARTA – Isu penolakan terhadap rencana penambangan pasir besi di enam desa dari tiga kecamatan di pesisir Pantai Kulon Progo kini bergeser menjadi isu penyerobotan tanah petani oleh pemerintah. Petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulonprogo menyatakan tanah yang akan dijadikan tambang pasir besi oleh PT Jogja Magasa Iron secara sah milik mereka. “Sampai kapan pun kami akan mempertahankan lahan kami, kami akan terus bertani,” kata koordinator PPLP dalam diskusi publik bertema “Membedah Status Sultan Ground dan Pakualaman Ground dalam Keistimewaan Yogyakarta” di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada kemarin.

Tanah yang diklaim Pakualaman Ground di Kulon Progo, yang akan dijadikan lahan penambangan pasir besi, ditentang para petani. Dari rencana 3.000 hektare lahan yang akan ditambang, yang diklaim milik Pakualaman, 75 persennya diklaim milik petani dengan bukti sertifikat dan Letter C.

Suara lebih keras dalam diskusi itu muncul dari George Junus Aditjondro, penulis buku Gurita Cikeas. Menurut dia, perdebatan soal keistimewaan Yogyakarta terlalu difokuskan pada penentuan siapa yang berhak menjadi gubernur dan wakilnya. “Wacana itu terlalu sempit, sebab yang menentukan watak feodal Daerah Istimewa Yogyakarta adalah keberadaan tanah kerajaan di provinsi ini,” kata George yang juga dosen Universitas Sanata Dharma.

Menurut George, persil Sultan Ground dan Pakualaman Ground menjadi lahan bisnis dan kegiatan sosial bagi banyak anggota keluarga Sultan dan Pakualaman. “Mirip keluarga raja-raja di Eropa,” kata dia. Dia menambahkan, putri sulung Sultan, GKR Pambayun, paling aktif memanfaatkan tanah keraton warisan perjanjian Giyanti pada 1755.

George mengatakan Pambayun kini memimpin pabrik gula Madukismo; menjabat direktur pabrik rokok Kraton Dalem yang punya kebun tembakau di Ganjuran, Bantul; membudidayakan ulat sutra lewat PT Yarsilk Gora Mahottama di Karangtengah, Imogiri Bantul; serta menjabat direktur perusahaan tambak udang PT Indokor Bangun Desa di Pantai Kwaru, Bantul. “Permata di mahkota kerajaan bisnis keluarga keraton Yogyakarta adalah perusahaan tambang pasir besi PT Jogja Magasa Mining,” kata George.

Dia mengatakan Pambayun dan pamannya, adik kandung Sultan, GBPH Joyokusumo, menjabat Komisaris PT Jogja Magasa Mining. Sedangkan posisi direktur utama dipegang oleh BRM Hario Seno dari Puro Pakualaman. Goerge memperoleh data itu dari akta pendirian PT Jogja Magasa Mining, 6 Oktober 2005.

Goerge menyatakan rencana penambangan pasir besi di Kulon Progo menunjukkan besarnya ketergantungan bisnis keluarga keraton Yogyakarta pada tanah feodal. Padahal sesungguhnya tanah itu sudah harus dihapus jika bangsawan keraton menghormati Undang-Undang Pokok Agraria 1960 yang sudah diterima oleh Sultan Hamengku Buwono IX pada 24 September 1984. Menurut dia, keberadaan SG dan PAG yang kontroversial itu justru akan dicoba dilegalisasi dengan membonceng Rencana Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta di pasal 12 bab VIII. “Seharusnya, Sultan menjadi raja yang budiman. Takhta itu untuk rakyat seperti kata HB IX, bukan seperti sekarang, takhta untuk konglomerat,” ujar George.

Tudingan George Junus Aditjondro, bahwa proyek penambangan pasir besi di pesisir Kulon Progo merupakan bentuk ketergantungan bisnis keraton dan pakualaman terhadap tanah-tanah feodal, dibantah Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X. “Tambangnya kan ada di situ. Kalau di pucuk Merapi, ya milik rakyat,” kata Sultan saat ditemui di Kepatihan kemarin.

Sultan pun balik menuding George tidak paham sejarah asal-usul tanah keraton. “Tahu enggak itu asal-usulnya? Tanah di DIY ini hasil menang perang (dengan kolonial Belanda),” ujar Sultan. MUH SYAIFULLAH | PITO AGUSTIN RUDIANA

http://www.korantempo.com

***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s