Makassar

Industri Pengolahan Rotan di Sulawesi Selatan Gulung Tikar

FRIDAY, 02 DECEMBER 2011

 

MAKASSAR — Sekretaris Umum Asosiasi Mebel Indonesia Sulawesi Selatan H M. Mansyur mengungkapkan, industri pengolahan rotan di Sulawesi Selatan saat ini sudah mulai gulung tikar. Hal ini menyusul segera disahkannya regulasi baru mengenai larangan ekspor rotan oleh Kementerian Perdagangan akhir tahun ini. “Di antara industri ini, ada yang memilih pindah tempat operasi ke Jawa,” Mansyur memaparkan.

Dia menjelaskan, di Sulawesi Selatan terdapat tiga unit industri pengolahan rotan. Ketiga industri tersebut sejauh ini menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 orang. “Kalau ekspor ditutup, akan semakin banyak pengangguran dan angka kemiskinan akan meningkat.” Jumlah tersebut, dia melanjutkan, terdiri atas petani, pengumpul, tenaga pengangkut, dan tenaga pengolah.

Sementara itu, jika dilihat dari potensi, Mansyur menjelaskan, di Sulawesi Selatan terdapat 24 jenis rotan. Yang mampu diserap oleh industri lokal hanya empat jenis. Produksi yang tak terserap inilah yang selama ini dipasarkan ke luar negeri. Itu pun masih dalam jumlah terbatas. “Jika tidak diekspor, akan dipasarkan ke mana?” ujarnya.

Dalam waktu dekat, Mansyur mengatakan, untuk memperjuangkan kelangsungan ekspor dan mempertahankan pendapatan masyarakat dari rotan, pihak asosiasi akan melakukan pertemuan dengan para gubernur se-Sulawesi. Meskipun pemerintah mengiming-imingi dengan pengembangan industri dalam negeri, menurut Mansyur, hal tersebut tidak efektif.

Buktinya, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan telah mendirikan industri mebel rotan di Palu, Aceh, dan Kendari. Namun hingga kini tidak berjalan optimal. “Pembangunannya sejak 2007, namun hingga sekarang tidak jalan dan tak ada hasil,” katanya. Salah satu kendalanya adalah, Mansyur menambahkan, sulitnya infrastruktur dan sarana pengolahan di luar Jawa.

Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia Sulawesi Selatan Zakir Zabara H. Wata menuturkan, pihak asosiasi akan secepatnya mendesak pemerintah pusat agar segera menerbitkan kebijakan tata niaga rotan baru yang memperhatikan kepentingan industri dari hulu hingga hilir. “Hal ini demi kesejahteraan petani dan pengumpul rotan, pekerja, perajin, serta pengusaha rotan,” katanya. Caranya dengan mengoptimalkan pemanfaatan produk rotan yang selama ini tidak bisa diserap oleh industri dalam negeri.

Asosiasi, menurut Zakir, juga akan mendesak pemerintah agar melakukan kontrol terhadap rotan plastik yang merupakan pesaing dan substitusi dari rotan alam. “Pemerintah wajib membina industri rotan alam seperti yang dilakukan terhadap industri rotan plastik agar kita bisa membangun industri mebel rotan kelas dunia.” | ANISWATI SYAHRIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s