BUNTUT DISKUSI TANAH KERATON
Massa Usir George Aditjondro dari Yogyakarta

SATURDAY, 03 DECEMBER 2011

SLEMAN – Warga Deresan, Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta, kaget ketika iring-iringan motor yang dikendarai orang-orang berpakaian serba hitam dengan kaki bersepatu bot tentara masuk ke gang kampung itu pada pukul 10.30 WIB kemarin. Puluhan orang dari Forum Paksi Keraton dan Forum Jogja Rembug itu menyerbu kediaman akademisi George Junus Aditjondro. “Segel saja, segera usir dari kampung, wong tidak bisa menghormati Keraton,” kata salah satu dari mereka. Pengusiran itu merupakan buntut ucapan George dalam diskusi tentang Sultan Ground dan Pakualaman Ground di Universitas Gadjah Mada Rabu lalu yang dinilai menghina Keraton Yogyakarta.

Massa memadati gang selebar dua meter itu. Mereka sempat salah masuk ke rumah warga di sebelah rumah George. Di rumah kontrakan berbiaya sewa Rp 6,5 juta setahun itu, George tinggal bersama istrinya. “Oh, ternyata cuma ngontrak toh? Dasar tikus!” kata salah seorang dari mereka.

Rumah bercat hijau itu sederhana, berukuran 36 meter persegi dan berdempetan dengan rumah di kiri-kanannya. Di bagian depan ada teras selebar satu meter dengan tiga sangkar burung tergantung. Saat pintu rumah diketuk, tak seorang pun keluar. Massa pun memenuhi pintu, jendela kaca, dan tembok rumah itu dengan poster bertulisan “George jika sudah tidak suka Keraton dan Jogja, silakan minggat dari Jogja!” Teras rumah itu pun ditaburi bunga yang diselipkan lewat ventilasi. “Yang punya di sini sudah mati!” kata Harno dari Forum Jogja Rembug.

Mereka menitipkan tiket bus Joglosemar jurusan Yogya-Semarang kepada Ketua RT, Suryanto. “Ini tolong diberikan pada George, agar segera pergi dari Jogja. Kalau butuh sangu (uang saku) suruh temui kami, akan kami berikan,” kata koordinator aksi Muhammad Suhud. Aksi tersebut berlangsung sekitar 15 menit dan disaksikan oleh belasan polisi.

Keberadaan George saat itu tak jelas. Ketika Tempomencarinya di kampus Sanata Dharma, petugas administrasi tak tahu keberadaannya. “Tak kelihatan hari ini, mungkin tak ada jadwal mengajar,” ujarnya.

Juru bicara Kepolisian Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Ajun Komisaris Besar Polisi Anny Pudjiastuti, meminta massa tidak bertindak main hakim sendiri. “Itu sudah menyalahi aturan,” kata Anny kepada Tempo. Polisi akan memanggil George dan panitia diskusi atas laporan Forum Masyarakat Yogyakarta yang menuduh George menghina Keraton. “Kami panggil untuk klarifikasi. Polisi tidak diam,” kata dia.

Pengamat politik dan sosiolog UGM Arie Sujito menyayangkan aksi pengusiran itu. “George mungkin emosional sehingga menyinggung, tapi jangan disikapi dengan emosional juga,” kata Arie. Kasus ini sebaiknya diselesaikan lewat pendekatan sosio-kultural, yaitu dengan cara mediasi. “Selama ini penyelesaian sosio-kultural menjadi kekhasan Yogyakarta sehingga menjadikan Yogyakarta istimewa,” kata dia.

Salah seorang panitia diskusi di UGM itu, Yuri Azhari, mengatakan tindakan melaporkan George kepada polisi justru membelokkan substansi diskusi,yakni soal tanah di Yogyakarta.PRIBADI WICAKSONO | MUH SYAIFULLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s